Jurnal Kefarmasian Akfarindo
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar
Jurnal Kefarmasian AkfarindoAkademi Farmasi Indonesia Yogyakartaen-USJurnal Kefarmasian Akfarindo2528-7257UJI EFEKTIVITAS SABUN MANDI CAIR EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) DENGAN VARIASI CARBOPOL 940 TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1293
<p>Daun salam mengandung senyawa aktif tanin dan flavonoid yang memiliki aktivitas antibakteri, khususnya bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em>. Ekstrak daun salam dikembangkan menjadi sediaan sabun mandi cair untuk meningkatkan efektivitas dan stabilitas sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun salam terhadap <em>Staphylococcus epidermidis</em>, pengaruh variasi konsentrasi <em>carbopol</em> 940 terhadap mutu fisik dan stabilitas sediaan, serta menentukan formula terbaik berdasarkan uji mutu fisik, uji stabilitas, dan uji antibakteri.</p> <p>Ekstrak daun salam dibuat menggunakan metode maserasi dengan merendam serbuk dalam pelarut etanol 96%. Ekstrak diuji antibakteri pada konsentrasi 1; 2; 3%, ekstrak teraktif diformulasikan menjadi sediaan sabun dengan variasi <em>carbopol</em> 940 0,5; 1; 1,5%. Seluruh formula dilakukan uji mutu fisik dan uji stabilitas yang meliputi uji organoleptik, viskositas, pH, tinggi busa, dan uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em>. Analisis hasil menggunakan SPSS dengan uji ANOVA.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun salam memiliki aktivitas antibakteri terhadap <em>Staphylococcus epidermidis</em> pada konsentrasi 2% dengan zona hambat sebesar 35,33 mm. Peningkatan konsentrasi <em>carbopol</em> 940 akan meningkatkan viskositas, menurunkan pH dan tinggi busa sediaan. Berdasarkan hasil penelitian, sediaan sabun cair ekstrak daun salam dengan mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas terbaik Hasil mutu fisik, stabilitas dan aktivitas antibakteri terbaik adalah formula 1 yang mengandung <em>carbopol</em> 0,5%, ditunjukkan dengan zona hambat sebesar 26,33 mm.</p>Sefi Ardila Salsabila PutriAna IndrayatiSiti Aisiyah
Copyright (c) 2026 Sefi Ardila Salsabila Putri, Ana Indrayati, Siti Aisiyah (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-09-302026-09-30849310.37089/jofar.vi0.1293UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL 96%, FRAKSI N-HEKSANA, FRAKSI ETIL ASETAT, DAN FRAKSI AIR DAUN MANGGA KIOJAY (Mangifera indica L. var. Kiojay) DENGAN METODE DPPH
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1306
<p>Radikal bebas berlebihan di dalam tubuh dapat memicu stres oksidatif yang berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif. Daun mangga kiojay (<em>Mangifera indica</em> L. var. <em>Kiojay</em>) diduga kaya senyawa antioksidan, tetapi belum banyak dieksplorasi secara ilmiah, khususnya melalui fraksinasi. Penelitian ini bertujuan menetapkan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96%, fraksi <em>n</em>-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air daun mangga kiojay.</p> <p>Penelitian menggunakan rancangan <em>Posttest-Only Control Group Design</em>. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan pada ekstrak etanol 96%, fraksi <em>n</em>-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air daun mangga kiojay. Uji antioksidan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dengan kuersetin sebagai dilakukan pembanding. Hasil uji DPPH dinyatakan sebagai nilai <em>Inhibition Concentration</em> 50 (<em>IC<sub>50</sub></em>) dan <em>Antioxidant Activity Index</em> (AAI). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji <em>One Way Analysis of Variance</em> (<em>ANOVA</em>) pada taraf kepercayaan 95% pada SPSS.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi pada fraksi etil asetat dengan <em>IC<sub>50</sub></em> sebesar 13,61 ± 0,31 mg/L dan AAI 5,80 ± 0,13 (kategori sangat kuat), diikuti fraksi air (<em>IC<sub>50</sub></em> 42,56 ± 1,41 mg/L; AAI 1,86 ± 0,06), ekstrak etanol 96% (<em>IC<sub>50</sub></em> 31,83 ± 1,70 mg/L; AAI 2,49 ± 0,13), dan fraksi <em>n</em>-heksana (<em>IC<sub>50</sub></em> 84,22 ± 0,77 mg/L; AAI 0,94 ± 0,01). Hasil uji <em>One Way ANOVA</em> menunjukkan perbedaan signifikan antar sampel (p < 0,05). Fraksi etil asetat memiliki dengan <em>IC<sub>50</sub></em> 13,61 ± 0,31 mg/L dan AAI 5,80 ± 0,13 dengan kategori sangat kuat. Dapat disimpulkan, fraksi etil asetat merupakan fraksi yang paling berpotensi sebagai antioksidan alami dari daun mangga kiojay</p>Jovanka Viona Anggriani Boru PurbaNuraini HarmastutiReslely Harjanti
Copyright (c) 2026 Jovanka Viona Anggriani Boru Purba, Nuraini Harmastuti, Reslely Harjanti (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-09-302026-09-309410310.37089/jofar.vi0.1306PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL, FLAVONOID TOTAL, DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI EKSTRAK ETANOL BATANG LENGLENGAN (Leucas lavandulifolia Sm.) DENGAN METODE DPPH
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1388
<p>Stres oksidatif akibat ketidakseimbangan radikal bebas dan antioksidan berperan dalam perkemangan penyakit degeneratif. Batang lenglengan (<em>Leucas lavandulifolia</em> Sm.) berpotensi menjadi sumber senyawa antioksidan, namun informasi mengenai kandungan fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidannya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar fenolik total, kadar flavonoid total, serta aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan fraksi <em>n-</em>heksana, etil asetat, serta air dari batang lenglengan.</p> <p>Penelitian ini menggunakan rancangan <em>posttest-only</em> <em>control group design.</em> Batang lenglengan diekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diekstraksi bertingkat menggunakan n-heksana, etil asetat, dan air. Aktivitas antioksidan dievaluasi menggunakan metode DPPH berdasarkan nilai <em>IC₅₀,</em> sedangkan kadar fenolik total dan flavonoid total dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji One Way ANOVA, dilanjutkan dengan uji Tukey HSD dan uji korelasi Pearson pada taraf kepercayaan 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai <em>IC<sub>50</sub></em> <em>I</em>ekstrak etanol, fraksi <em>n-</em>heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air berturut-turut sebesar 34,43 ± 0,27 ppm; 188,61 ± 0,06 ppm; 31,25 ± 0,24 ppm; dan 169,80 ± 0,52 ppm. Kadar fenolik total masing-masing sebesar 85,38 ± 0,26; 36,88 ± 0,36; 119,82 ± 0,44; dan 46,10 ± 0,36 mg GAE/g, sedangkan kadar flavonoid total berturut-turut sebesar 54,00 ± 0,51; 22,17 ± 0,32; 76,43 ± 0,50; dan 29,39 ± 0,38 mg QE/g. Analisis korelasi memperlihatkan bahwa kadar fenolik total maupun flavonoid total berkorelasi signifikan terhadap aktivitas antioksidan (p < 0,05). Disimpulkan, bahwa fraksi etil asetat merupakan fraksi dengan aktivitas antioksidan paling tinggi sekaligus mengandung fenolik dan flavonoid total terbesar dibandingkan fraksi lainnya</p>Maria Mi SedaMamik Ponco RahayuDwi Ningsih
Copyright (c) 2026 Maria Mi Seda, Mamik Ponco Rahayu, Dwi Ningsih (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-09-302026-09-3010411310.37089/jofar.vi0.1388BIAYA MEDIS LANGSUNG PASIEN HIPERTENSI DI RSUD KOTA YOGYAKARTA
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1290
<p>Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang sehingga berpengaruh pada peningkatan biaya pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi biaya medis langsung dari perspektif rumah sakit, serta menganalisis perbedaan biaya medis langsung berdasarkan karakteristik pasien, karakteristik penyakit, dan penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Kota Yogyakarta.</p> <p>Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain <em>cross sectional</em> menggunakan pengumpulan data secara <em>retrospektif</em>. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus OpenEpi dan diperoleh 116 pasien dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Sampel meliputi pasien hipertensi rawat jalan peserta JKN periode Januari–Juni 2025 yang memiliki data rekam medis dan data biaya pengobatan lengkap. Data diperoleh dari rekam medis elektronik dan dokumen biaya rumah sakit, kemudian dianalisis secara deskriptif serta menggunakan uji <em>Mann–Whitney</em> dan <em>Kruskal–Wallis</em> untuk mengetahui perbedaan biaya medis langsung.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berusia >60 tahun (52,58%) dan berjenis kelamin perempuan (67,24%). Sebagian besar pasien termasuk kategori prehipertensi (43,10%) dan memiliki komorbiditas (97,41%). Penggunaan antihipertensi yang paling banyak adalah terapi tunggal golongan <em>Angiotensin Receptor Blocker</em>. Rata rata biaya medis langsung setiap kunjungan rawat jalan sebesar Rp223.721,31 ± Rp274.203,95. Terdapat perbedaan bermakna biaya medis langsung berdasarkan jumlah komorbiditas (p=0,032), jumlah penggunaan semua obat (p<0,001), dan jumlah penggunaan obat antihipertensi (p=0,001). Disimpulkan, total biaya medis langsung pada 116 pasien sebesar Rp31.575.621, dengan komponen biaya terbesar berasal dari obat lain (54,20%), dengan rata-rata biaya sebesar Rp273.721,31 ± Rp274.203,95 per pasien. Serta, jumlah komorbiditas dan penggunaan obat berhubungan dengan biaya medis langsung</p>Putri NadhilaWoro SupadmiAndriana SariBasuki Andriyanto Rahmat
Copyright (c) 2026 Putri Nadhila, Woro Supadmi, Andriana Sari, Basuki Andriyanto Rahmat (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-09-302026-09-3011412110.37089/jofar.vi0.1290PENETAPAN NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF) DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KRIM TABIR SURYA MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1401
<p>Krim tabir surya digunakan untuk melindungi kulit dari paparan radiasi ultraviolet (UV), sedangkan antioksidan berperan dalam menangkal radikal bebas yang terbentuk akibat paparan UV. Salah satu parameter untuk menggambarkan kemampuan perlindungan krim tabir surya terhadap radiasi UV adalah nilai <em>Sun Protection Factor</em> (SPF), yang terutama menunjukkan tingkat perlindungan terhadap radiasi UVB. Penelitian ini bertujuan menentukan nilai <em>Sun Protection Factor</em> (SPF), mengetahui kesesuaian nilai SPF dengan klaim pada kemasan, serta aktivitas antioksidan krim tabir surya yang beredar di Kota Bengkulu.</p> <p>Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan enam sampel krim tabir surya yang dipilih secara <em>purposive sampling</em>. Penetapan SPF dilakukan secara in vitro menggunakan metode Mansur pada panjang gelombang 290–320 nm menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Nilai SPF yang diperoleh dibandingkan dengan nilai SPF yang tercantum pada kemasan untuk mengetahui kesesuaian klaim perlindungan produk dengan hasil pengujian secara <em>in vitro</em>. Aktivitas antioksidan ditentukan menggunakan metode ABTS pada panjang gelombang 743 nm berdasarkan nilai IC₅₀, dengan vitamin C digunakan sebagai kontrol positif.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan nilai SPF sebesar 0,45–14,32 dan seluruh sampel tidak sesuai dengan klaim SPF 50. Nilai IC₅₀ berkisar 31,80–365,31 ppm, dengan aktivitas antioksidan sangat kuat hingga sangat lemah. Kesimpulan dari penelitian ini, seluruh sampel krim tabir surya tidak memenuhi klaim SPF 50, sedangkan aktivitas antioksidannya bervariasi dari sangat kuat hingga sangat lemah berdasarkan metode ABTS</p>Thalia Monica PutriElly MulyaniNeti AfriyaniHerlina
Copyright (c) 2026 Thalia Monica Putri, Elly Mulyani, Neti Afriyani, Herlina (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-09-302026-09-3012212710.37089/jofar.vi0.1401