Jurnal Kefarmasian Akfarindo
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar
Jurnal Kefarmasian AkfarindoAkademi Farmasi Indonesia Yogyakartaen-USJurnal Kefarmasian Akfarindo2528-7257UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa L.) DAN DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1191
<p><em>Pseudomonas</em> secara intrinsik resisten terhadap antimikroba dan dapat mengembangkan resistensi selama kemoterapi <em>antipseudomonal</em> yang keduanya membahayakan pengobatan infeksi. Biji jintan hitam mengandung <em>thymoquinone </em>yang telah terbukti menghambat <em>Pseudomonas</em>, sementara daun cengkeh kaya eugenol yang memiliki aktivitas antibakteri signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol biji jintan hitam dan daun cengkeh terhadap <em>Pseudomonas</em>, serta mengidentifikasi kombinasi tersebut menghasilkan efek sinergis atau antagonis.</p> <p>Penelitian ini menggunakan metode <em>True Experimental Design</em> dengan metode uji difusi cakram dan pita kertas. Uji dilusi digunakan untuk menetapkan nilai KHM dan KBM berdasarkan perbandingan yang paling efektif dalam membunuh bakteri dengan seri pengenceran mulai dari konsentrasi 50%; 25%; 12,5%; 6,25%; 3,12%; 1,56%; 0,78%; 0,39%; 0,19%; 0,09%. Uji difusi dengan kertas cakram menggunakan perbandingan antara (1:1); (1:2); (2:1). Aktivitas antibakteri kombinasi dilakukan uji pola interaksi menggunakan metode pita kertas. Analisis data menggunakan SPSS dengan nilai signifikansi (p> 0,05).</p> <p>Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tidak dapat ditentukan nilai KHM karena ekstrak berwarna gelap. Ekstrak biji jintan hitam memiliki KBM 50% dan daun cengkeh memiliki KBM 50%. Hasil uji difusi pada ekstrak tunggal biji jintan hitam memiliki diameter 20 mm dan daun cengkeh 17,7 mm. Kombinasi (1:1) memiliki diameter daya hambat 14,43 mm, kombinasi (1:2) 17,1 mm dan kombinasi (2:1) 20,43 mm. Aktivitas antibakteri kombinasi biji jintan hitam dan daun cengkeh yang efektif adalah perbandingan (2:1). Pada uji pita kertas hasil yang didapatkan adalah bersifat sinergis. </p>Tria AgustinaIsmi RahmawatiFitri Kurniasari
Copyright (c) 2026 Tria Agustina, Ismi Rahmawati, Fitri Kurniasari (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-3111010.37089/jofar.vi0.1191UJI AKTIVITAS FIBRINOLITIK EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) DENGAN METODE CLOT LYSIS
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1254
<p>Ketidakseimbangan sistem hemostasis dapat memicu pembentukan bekuan fibrin yang dapat menyumbat pembuluh darah berisiko menyebabkan gangguan sirkulasi. Daun belimbing wuluh <em>(Averrhoa bilimbi </em>L<em>)</em> diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi untuk meningkatkan plasminogen menjadi plasmin enzim utama dalam proses fibrinolisis yang berperan memecah fibrin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas fibrinolitik dari ekstrak etanol dan fraksi daun belimbing wuluh n-heksana, etil asetat, dan air menggunakan metode <em>clot lysis.</em></p> <p>Daun belimbing wuluh dilakukan determinasi, diolah hingga menjadi serbuk. Penetapan susut pengeringan serbuk, ekstraksi serbuk dengan etanol 96%, penetapan kadar air ekstrak. Fraksinasi ekstrak dengan pelarut <em>n-</em>heksan, etil asetat dan air. Identifikasi senyawa kimia kromatografi lapis tipis. Uji fibrinolitik menggunakan metode <em>clot lysis</em> sampel darah kelinci dengan kontrol positif nattokinase dan kontrol negatif aquadest 1% tween, ekstrak etanol dan fraksi dibuat variasi konsentrasi 10, 20, dan 30 mg/ml.</p> <p>Pengujian fibrinolitik dengan metode <em>clot lysis</em> variasi konsentrasi 10, 20, dan 30mg/ml ekstrak dan fraksiSenyawa yang diduga memiliki aktivitas fibrinolitik yaitu flavonoid, saponin dan minyak atsiri. Hasil uji menunjukkan aktivitas tertinggi fraksi etil asetat konsentrasi 30mg/ml yaitu 89,72%. Hasil analisis data SPSS (<em>Statistical Package For The Social Science</em>) uji <em>Post-Hoc Tukey </em>menghasilkan fraksi etil asetat 30mg/ml memiliki aktivitas fibrinolitik yang tinggi karena berada pada subset yang sama dengan kontrol positif dan nilai yang didapatkan tidak berada jauh yaitu sebesar 96,54%. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol daun belimbing wuluh (<em>Averrhoa bilimbi</em> L) serta fraksi n-heksan, etil asetat, dan air, seluruhnya menunjukkan kemampuan fibrinolitik.</p>ApriyanaAna IndrayatiFitri Kurniasari
Copyright (c) 2026 Apriyana, Ana Indrayati, Fitri Kurniasari (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31112010.37089/jofar.vi0.1254PERSEPSI PASIEN TERHADAP PERAN APOTEKER DALAM PELAYANAN KIE DI RSUD BANGGAI LAUT 2025
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1242
<p>Peran apoteker dalam pelayanan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) sangat penting dalam menjamin penggunaan obat yang aman dan efektif serta meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi. Keberhasilan pelayanan KIE tidak hanya ditentukan oleh kompetensi apoteker, tetapi juga oleh persepsi pasien terhadap peran apoteker sebagai komunikator, informan klinis, dan edukator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan persepsi pasien terhadap apoteker dalam pelayanan KIE di instalasi farmasi RSUD Kabupaten Banggai Laut.</p> <p>Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan desain<em> cross-sectional</em>. Subjek penelitian adalah 91 pasien rawat jalan berusia ≥19 tahun yang telah menerima pelayanan kefarmasian minimal dua kali dan bersedia berpartisipasi dengan menandatangani <em>informed consent</em>. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden, peran apoteker, dan persepsi pasien, serta analisis inferensial menggunakan uji <em>Wilcoxon Signed Rank Test</em> untuk mengetahui perbedaan antara peran apoteker dan persepsi pasien, dengan tingkat signifikansi p < 0,05.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pasien terhadap peran apoteker dalam pelayanan KIE sebagian besar tergolong positif, dengan persentase tertinggi pada aspek komunikator (98,90%), diikuti informan klinis (97,70%) dan edukator (96,80%). Penilaian terhadap peran apoteker sendiri juga tergolong baik, dengan nilai 84,80% pada aspek komunikator, 84,61% pada informan klinis, dan 84,06% pada edukator. Berdasarkan uji Wilcoxon Signed Rank Test (Z = −8,294; p < 0,001), terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi pasien dan penilaian peran apoteker. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu peran apoteker dalam pelayanan KIE tergolong baik, sedangkan persepsi pasien terhadap peran apoteker tergolong positif. </p>Moh. Djidan Putra Pratama DjibranLucia Vita Inandha Dewi Santi Dwi Astuti
Copyright (c) 2026 Moh. Djidan Putra Pratama Djibran, Lucia Vita Inandha Dewi, Santi Dwi Astuti (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31212910.37089/jofar.vi0.1242HUBUNGAN KETEPATAN TERAPI DENGAN OUTCOME KLINIS PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GAMPING
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1221
<p>Prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 disertai hipertensi masih tinggi, mencapai 50-75% secara global. Kejadian <em>Medication error</em> masih menjadi problem di beberapa negara, mencapai sekitar 70%, sehingga mempengaruhi kegagalan dalam pencapaian target terapi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan ketepatan terapi dengan o<em>utcome</em> klinis pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping.</p> <p>Metode penelitian menggunakan <em>non-eksperimental</em> berupa kajian deskriptif dan analitik dengan pendekatan retrospektif dengan 37 rekam medik pasien DMT2 -hipertensi rawat jalan periode Januari - Desember 2024 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Analisis ketepatan terapi mengacu pada <em>guideline</em> JNC VIII, PERHI, PERKENI, dan ADA. Analisis statistik dilakukan dengan analisis <em>chi-square.</em></p> <p>Hasil penelitian ini menunjukkan analisis terapi antidiabetes meliputi tepat indikasi (100%), tepat pasien (100%), tepat dosis (100%), tepat frekuensi (100%), dan tepat rute pemberian (100%). Adapun pada analisis terapi antihipertensi menunjukan tepat indikasi (100%), tepat pasien (97,3%), tepat dosis (100%), tepat frekuensi (100%), dan tepat rute pemberian (100%). Hasil perbaikan <em>outcome</em> klinis rata-rata kadar GDS dan/atau GDP baik pada pemeriksaan bulan pertama dan kedua sebanyak 37 pasien (100%) mengalami penurunan dan terkontrol, begitu juga pada hasil perbaikan <em>outcome</em> klinis rata-rata tekanan darah diastole 37 pasien (100%) mengalami penurunan dan terkontrol, namun berbeda dengan rata-rata tekanan darah sistol, beberapa pasien masih belum terkontrol.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan antara ketepatan terapi dengan <em>outcome </em>klinis berupa GDS dan/GDP maupun tekanan darah dengan nilai <em>p-value</em> sebesar 1,000 (p>0,05).</p>Rizqiana Tri AryaningrumGinanjar Zukhruf SaputriAkromLalu M IrhamWoro SupadmiJoko Sudibyo
Copyright (c) 2026 Rizqiana Tri Aryaningrum, Ginanjar Zukhruf Saputri, Akrom, Lalu M Irham, Woro Supadmi, Joko Sudibyo (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31303910.37089/jofar.vi0.1221ANALISIS IN SILICO SENYAWA POLIFENOL DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill.) SEBAGAI POTENSI INHIBITOR SGLT-2 MENGGUNAKAN MOLECULAR DOCKING DAN PREDIKSI ADMET
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1255
<p>Diabetes melitus tipe 2 menjadi ancaman kesehatan global yang signifikan dengan prevalensi mencapai 562 juta jiwa pada tahun 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi 853 juta kasus pada tahun 2050. Terapi yang tersedia saat ini masih memiliki berbagai keterbatasan dan efek samping seperti infeksi saluran kemih dan resiko ketoasidosis euglikemik. Daun alpukat (<em>Persea americana</em> Mill.) diketahui mengandung berbagai senyawa polifenol yang berpotensi sebagai antidiabetes melalui mekanisme penghambatan <em>Sodium glucose cotransporters 2</em> (SGLT-2). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas penghambatan senyawa polifenol daun alpukat terhadap protein SGLT 2 dengan pemanfaatan CAAD melalui molecular docking dan prediksi sifat ADMET.</p> <p>Penelitian menggunakan desain eksperimental berbasis komputer terhadap 30 senyawa polifenol daun alpukat dengan empagliflozin sebagai kontrol positif dan parasetamol sebagai kontrol negatif. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak ChemDraw, VegaZZ, DSV, PyRx, PyMOL, SwissADME, dan Toxtree.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>Syringic acid</em> merupakan senyawa terbaik dengan RMSD 1,274 dan ΔG −6,4, ikatan residu asam amino spesifik dengan empaglifozin, memenuhi kriteria <em>Lipinski’s Rule of Five</em>, dan dalam kategori toksisitas rendah (<em>class I</em>) berdasarkan <em>cramer rules. </em>Sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa polifenol daun alpukat (Persea americana Mill.) menunjukkan potensi sebagai inhibitor SGLT-2 dengan syringic acid sebagai kandidat terbaik (ΔG −6,4 kkal/mol; RMSD 1,274 Å).</p>Rahardian Ariana PutriTiara Ajeng ListyaniDanang Raharjo
Copyright (c) 2026 Rahardian Ariana Putri, Tiara Ajeng Listyani, Danang Raharjo (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31404710.37089/jofar.vi0.1255PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN BIWA (Eriobotrya japonica (Thunb.) Lindl) TERHADAP PENURUNAN KADAR CREATINE KINASE-MB DAN LACTIC ACID DEHYDROGINASE
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1267
<p>Daun biwa (<em>Eriobotrya japonica </em>(Thunb.) Lindl) mengandung senyawa antioksidan yang memiliki efek anti-proliperatif, dan kardioprotektif. Aktivitas antioksidan flavonoid bersumber pada kemampuan mendonasikan atom hidrogennya atau melalu kemampuannya mengkelat logam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek kardioprotektif ekstrak etanol daun biwa terhadap tikus jantan yang diinduksi doksorubisin.</p> <p>Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium meliputi uji efek kardioprotektif menggunakan tikus jantan. Parameter yang diukur adalah kadar <em>Creatine Kinase MB </em>(CK-MB) dan <em>Lactic Acid Dehydroginase </em>(LDH). Tikus diinduksi dengan doksorubisin dengan dosis 5 mg/kg bb pada hari ke-7, ke-14, dan ke-21, diberi perlakuan ekstrak etanol daun biwa 150 mg/kg bb, 200 mg/kg bb, dan 250 mg/kg bb selama 21 hari dan dilakukan pengujian kadar CK-MB dan LDH pada hari ke-21 setelah pemberian ekstrak etanol daun biwa. Data dianalisis untk mengatahui perbedakan kadar CK-MB dan LDH pada kelompok perlakuan, positif dan negatif.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun biwa mampu menurunkan kadar CK-MB dan LDH dan aktivitas kardioprotektif maksimal, pada dosis 250 mg/kg. Kadar CK-MB kelompok kontrol negatif memiliki perbedaan signifikan (p < 0,05) dengan kelompok normal, kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan ekstrak etanol daun biwa dosis 150 mg/kg bb, 200 mg/kg bb, dan 250 mg/kg bb memiliki perbedaan signifikan (p < 0,05) dengan kelompok normal, kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan ekstrak etanol daun biwa dosis 150 mg/kg bb, 200 mg/kg bb, dan 250 mg/kg bb. Kesimpulan penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun biwa memiliki efek kardioprotektif dengan menghambat kenaikan kadar CK-MB dan LDH pada tikus jantan yang diinduksi doxorubicin.</p>Dhea Nur FadhilahNur Irhamni SabrinaOkpri Meila
Copyright (c) 2026 Dhea Nur Fadhilah, Nur Irhamni Sabrina, Okpri Meila (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31485610.37089/jofar.vi0.1267UJI AKTIVITAS INHIBISI TIROSINASE EKSTRAK ETANOL RIMPANG PACING (Costus speciosus)
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1235
<p>Melanin merupakan pigmen utama yang menentukan warna kulit, namun produksinya yang berlebihan dapat menyebabkan hiperpigmentasi seperti melasma. Enzim tirosinase memiliki peran penting dalam biosintesis melanin, sehingga penghambatan aktivitas enzim ini menjadi target utama dalam penanganan hiperpigmentasi. Rimpang pacing (<em>Costus speciosus</em>) diketahui mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin yang dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan serta berpotensi menghambat aktivitas tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas inhibitor tirosinase dari ekstrak etanol rimpang pacing (Costus speciosus), menentukan nilai persen inhibisi, serta nilai IC₅₀-nya.</p> <p>Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang dilakukan secara <em>in vitro</em>. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Penapisan fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, steroid, dan senyawa fenolik. Uji aktivitas tirosinase dilakukan secara in vitro menggunakan metode ELISA dengan substrat L-DOPA dan enzim mushroom tyrosinase, serta pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 490 nm. Data persen inhibisi dihitung dari nilai absorbansi hasil pengujian, kemudian digunakan untuk menentukan nilai IC₅₀ melalui analisis hubungan antara konsentrasi sampel dan persen inhibisi.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang pacing memiliki aktivitas penghambatan enzim tirosinase dengan persentase inhibisi tertinggi sebesar 65,91% pada konsentrasi 10.000 ppm. Aktivitas penghambatan ekstrak tergolong lebih lemah dibandingkan kontrol positif asam kojat yang memiliki nilai IC₅₀ sebesar 45,96 ppm. Dengan demikian, ekstrak rimpang pacing memiliki potensi sebagai agen anti-hiperpigmentasi alami, namun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitasnya.</p>Kharina Septi LestariVierly Stephany Putri WahyudiMarita KaniawatiAulia Nurfazri IstiqomahReza Pratama
Copyright (c) 2026 Kharina Septi Lestari, Vierly Stephany Putri Wahyudi, Marita Kaniawati, Aulia Nurfazri Istiqomah, Reza Pratama (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31576510.37089/jofar.vi0.1235UJI EFEKTIVITAS DAN STABILITAS HANDBODY LOTION EKSTRAK BIJI KETUMBAR (Coriandrum sativum L.) SEBAGAI REPELEN NABATI TERHADAP AEDES AEGYPTI
https://jofar.afi.ac.id/index.php/jofar/article/view/1263
<p>Nyamuk <em>Aedes aegypti</em> merupakan vektor utama penyakit demam berdarah dengue yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di wilayah tropis. Penggunaan repelen sintetis secara terus-menerus berpotensi menimbulkan resistensi serta efek samping pada kulit dan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif repelen berbasis bahan alam yang lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan stabilitas handbody lotion ekstrak biji ketumbar (<em>Coriandrum sativum</em> L.) sebagai repelen nabati terhadap <em>Aedes aegypti</em>.</p> <p>Ekstraksi biji ketumbar dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh kemudian diformulasikan ke dalam basis lotion minyak dalam air dengan variasi konsentrasi 0,06%; 0,08%; dan 0,1%. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat, serta uji stabilitas menggunakan metode <em>cycling test</em>. Uji efektivitas repelen dilakukan dengan metode <em>arm-in-cage</em> selama 6 jam pengamatan. Data dianalisis menggunakan uji <em>One Way</em> ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc dengan tingkat kepercayaan 95%.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak memiliki rendemen sebesar 11,7% dan seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik serta stabil selama pengujian. Formula dengan konsentrasi 0,1% menunjukkan daya proteksi tertinggi sebesar 76,9 ± 4,7% dan berbeda signifikan dibandingkan formula lainnya (p<0,05). Dengan demikian, handbody lotion ekstrak biji ketumbar berpotensi sebagai repelen nabati yang stabil dan efektif terhadap <em>Aedes aegypti</em>.</p>Rosantiara Indah HarumsariIwan Setiawan
Copyright (c) 2026 Rosantiara Indah Harumsari, Iwan Setiawan (Author)
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-03-312026-03-31667410.37089/jofar.vi0.1263